Popular Posts

Sunday, June 24, 2012

Tanya Jawab Seputar Bid'ah & Pengertian dari Hadist Kullu Bid'atin Dholalah



MEMAHAMI KALIMAT: “KULLU BIDH’ATIN DHOLALAH; SETIAP BID’AH ADALAH SESAT”.



Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu

‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hendaklah

kalian berpegang teguh pada sunnahku

dan sunnah para Khulafaur Rosyidin.

Gigitlah sunnah itu dengan geraham

kalian (yakni; peganglah jangan sampai terlepas). Dan berhati-hatilah terhadap PERKARA YANG BARU,

maka sesungguhnya setiap perkara

baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah

adalah sesat.”



Tanya:

Bagaimana ulama wahaby memahami bid'ah??

Jawab:

Syaikh Sholeh Al-Utsaimin dalam

Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, hal:

639-640). Al-Utsaimin mengatakan, “Hukum asal dari perbuatan-perbuatan

baru dalam urusan dunia adalah

HALAL. Jadi bid’ah dalam urusan-

urusan dunia itu HALAL, kecuali ada

dalil yang menunjukan akan

keharamannya.



Tetapi hukum asal dari perbuatan-perbuatan baru dalam

urusan agama adalah DILARANG, jadi

bid’ah dalam urusan-urusan agama

adalah HARAM dan BID’AH, kecuali adal

dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah

yang menunjukkan keberlakuannya.”



Akan tetapi,melalui tulisannya yang lain Al-

Utsaimin telah melanggar hukum yang

dibuatnya sendiri dalam Al-Ibda’ fi

Kamal Al-Syar’i wa Khathar Al-Ibtida’,

hal 13. Dia mengatakan tentang hadits Nabi,

”(Semua bid’ah adalah sesat)

adalah bersifat general, umum,

menyeluruh (tanpa terkecuali) dan

dipagari dengan kata yang menunjuk

pada arti menyeluruh dan umum yang

paling kuat yaitu kata-kata “kullu (seluruh)”.



Apakah setelah ketetapan

menyeluruh ini kita dibenarkan

membagi bid’ah menjadi tiga bagian,

atau menjadi lima bagian?

Selamanya

ini tidak akan pernah benar.”



Dalam pernyataannya diatas Al-

Utsaimin menegaskan bahwa “SEMUA

BID’AH adalah SESAT”, bersifat

general, umum, dan menyeluruh

terhadap seluruh bid’ah, tanpa

terkecuali, sehingga tidak ada bid’ah yang disebut BID’AH HASANAH.





Yang jadi pertanyaan,mengapa dalam pernyataannya

yang pertama dia membagi bid’ah ada

yang HALAL dan yang HARAM, juga

ada bid’ah Dunia dan Bid’ah Agama,

bukankah kullu di situ dikatakannya sebagai general (umum)? Sangat

LUCU dan KONTRADIKTTIF,



Mengapa banyak orang yang tidak mampu

melihat ironisme definisi bid'ah menurut pentolan wahaby

ini?



Tanya:

Bagaimana definisi bid'ah menurut Ahlussunnah waljama'ah:

Jawab:

1. Bid’ah Syar’iyyah, yaitu tiap-tiap ucapan,perbuatan atau i’tiqad yang

bertentangan dengan Alkitab (Al-

Qur’an), Assunnah (hadist Nabi

saw),Alijma’ Alqiyas

2. Bid’ah Lughawiyyah, yaitu segala sesuatu yang di ciptakan / belum

terjadi di jaman Rasulullah



Tanya :

Betulkah semua bid’ah itu

sesat? Dan bagaimana menurut faham

Ahlu sunnah waljama’ah?

Jawab :

Menurut faham Ahlu sunnah waljama’ah itu bid’ah ada dua macam, yaitu :



a. Bid’ah hasanah (Bid’ah yang baik / bagus) Sebagaimana yang terjadi di jaman Kholifah Umar Bin Khoththob “tarowih” para sahabat Nabi di masjid Nabawiy (Madinah) yang di lakukan terus menerus dengan berjamaah”.

Dalam menanggapi masalah ini Kholifah Umar Bin Khoththob berkata :

Yang artinya . “Sebaik baik bid’ah adalah ini ( yakni

sholat tarowih yang di kerjakan dengan

berjamaah berturu-turut )”



Jadi istilah Bid’ah hasanah ini di ambil dari sabda kholifah Umar tersebut di atas. Tak seorang sahabatpun yang menentang/menyalahkan sabda Kholifah Umar ini.Tegasnya semua berij’ma atas kebenaranya. Jadi landasan/sumber istilah” Bid’ah hasanah”tersebut adalah hasil mufakat (ijma’) para sahabat dari sunnah qouliyah Nabi yang artinya Hendaknya kalian berpegang teguh

dengan sunnahku dan sunnah khulafaur

rasyidin sesudahku………

Yang artinya . Ikutilah orang-orang sesudahku,Abu

Bakar dan Umar



Tanya :

Mengapa Kholifah Umar maupun Ulama Ahli sunnah waljama’ah mengatakan bid’ah hasanah? Jawab :

Ya,sebab arti bid’ah secara lughawi yaitu segala sesuatu yang belum pernah terjadi di zaman rasulullah saw. Dan di hukumi hasanah / bagus menurut syara’,karena perbuatan itu menurut dalil-dalil umum syara’ bisa di landasi kebenaranya.



Tanya :

Sekarang Kita teruskan tentang apa bid’ah Sayyiah itu? Jawab : Bid’ah Sayyiah (Bid’ah yang buruk)

Istilah ini sumbernya adalah Hadist Yang artinya Berhati – hatilah kalian /kalian jangan

mengada- adakan ciptakan baru

sesungguhnya sebagian bid’ah (ciptaan

baru) itu kesesatan.” Dari ummil mu’minin /Ummi

abdillah /’aisyah ra.beliau berkata :



Sabda Rasulullah saw Yang artinya “Barang siapa mengada-adakan hal

baru dalam agama yang bukan dari

agama kami,maka hal itu di tolak

(bathil)”

Jadi seumpama kita mengerjakan sholat subuh empat rakaat atau salat jenazah dengan rukuk dan sujud atau mengerjakan Jum’ah sebelum khotbah,atau sholat ‘id(hari raya) dengan mendahulukan khutbah dll.itu memang di tolak,sebab yang demikian itu memang tidak ada sumbernya dari agama.



Adapun yang ada sumbernya dari

agama seperti tarowih 20 rokaat

adzan jum’ah dua kali dll,tidaklah

termasuk yang di tolak.



Tanya :

Sebagian golongan ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi saw, itu di hukumi bid’ah.Betulkah itu?

Jawab :

Memang menurut istilah Lughowinya betul pendapat ini. Tetapi bid’ah yang ini terbagi menjadi lima macam :

a. Bid’ah wajibah ‘alal kifayah

Misalnya mempelajari ilmu – ilmu bahasa arab sebagai memahami Al- Qur’an dan Alhadist

b. Bid’ah muharromah

Misalnya seperti i’tiqad dan hal ihwal Ahli bid’ah yang bertentangan dengan tariqat Ahli

sunnah wal jama’ah.

c. Bid’ah mandubah

Yaitu seperti perbuatan-perbuatan yang baik yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw.seperti mendirikan madrasah- madrasah untuk memudahkan cara- cara memberikan pelajaran agama para murid.

d. Bid’ah Makruhah

Misalnya seperti menghias masjid dengan hiasan berlebih-lebihan.

e. Bid’ah Mustahabaah

Seperti bermewah-mewahan dalam makan dan minum.



Tanya:

Dalam surat

al-Maidah, ayat 3 disebutkan:

“Pada hari ini aku sempurnakan bagimu agamamu dan aku sempurnakan bagimu nikmat-Ku.” (QS. al-Maidah : 3)”

Bukankah ayat di atas menegaskan bahwa Islam telah sempurna. Dengan demikian, orang yang melakukan bid’ah hasanah berarti berasumsi

bahwa Islam belum sempurna,sehingga masih perlu disempurnakan dengan bid’ah hasanah.”

Jawab:

“Ayat 3 dalam surat al-Maidah yang disebutkan tidak berkaitan dengan bid’ah hasanah. Karena yang dimaksud dengan penyempurnaan

agama dalam ayat tersebut, seperti dikatakan oleh para ulama tafsir, adalah bahwa Allah

subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan kaedah-kaedah agama.



Seandainya yang dimaksud dengan ayat tersebut, tidak boleh melakukan bid’ah hasanah, tentu saja para sahabat sepeninggal Rasulullah

shallallahu alaihi wa sallam tidak akan melakukan bid’ah hasanah.

Sayidina Abu Bakar menghimpun al-Qur’an, Sayyidina Umar menginstruksikan shalat tarawih

secara berjamaah, dan Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, serta beragam bid’ah hasanah lainnya yang diterangkan dalam kitab-kitab hadits. Dalam hal ini tak seorang pun dari kalangan sahabat yang

menolak hal-hal baru tersebut dengan alasan ayat 3 surat al-Maidah tadi.



Jadi, ayat yang Anda sebutkan tidak ada kaitannya dengan bid’ah hasanah. Justru bid’ah hasanah masuk dalam kesempurnaan

agama, karena dalil-dalilnya terdapat dalam sekian banyak hadits Rasul shallallahu alaihi wa

sallam dan perilaku para sahabat.”



Tanya:

Hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali, tidak tepat

dijadikan dalil bid’ah hasanah.Karena hadits tersebut jelas membicarakan sunnah Rasul

shallallahu alaihi wa sallam. Bukankah redaksinya berbunyi,man sanna fil Islaam sunnatan

hasanatan. Di samping itu, hadits tersebut mempunyai latar belakang, yaitu anjuran sedekah.

Dan sudah maklum bahwa sedekah memang ada

tuntunannya dalam al-Qur’an dan Sunnah. Jadi hadits yang dijadikan dalil bid’ah hasanah

tidak proporsional.”



Jawab:

“Untuk memahami hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut kita harus berpikir jernih dan teliti.



Pertama, kita harus tahu bahwa yang dimaksud dengan sunnah dalam teks hadits tersebut adalah sunnah secara lughawi (bahasa).

Secara bahasa, sunnah diartikan dengan al-thariqah mardhiyyatan kanat au ghaira mardhiyyah (perilaku dan perbuatan, baik perbuatan yang diridhai atau pun tidak).



Sunnah dalam teks hadits tersebut tidak bisa dimaksudkan dengan Sunnah dalam istilah ilmu

hadits, yaitu ma ja’a ‘aninnabiy shallallahu alaihi wa sallam min qaulin au fi’lin au taqrir (segala sesuatu yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan

maupun pengakuan). Sunnah dengan definisi terminologis ahli hadits seperti ini, berkembang

setelah abad kedua Hijriah.



Seandainya, Sunnah dalam teks hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut dimaksudkan dengan

Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits, maka pengertian hadits

tersebut akan menjadi kabur dan rancu. Coba kita amati, dalam teks hadits tersebut ada dua

kalimat yang belawanan, pertama kalimat man sanna sunnatan hasanatan. Dan kedua,kalimat berikutnya yang berbunyi man sanna sunnatan sayyi’atan.



Nah, kalau kosa kata Sunnah dalam teks hadits tersebut kita maksudkan pada Sunnah Rasul

shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits tadi, maka akan melahirkan sebuah pengertian bahwa Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam itu ada yang hasanah (baik) dan

ada yang sayyi’ah (jelek). Tentu saja ini pengertian sangat keliru.



Oleh karena itu, para ulama seperti al-Imam al-Nawawi menegaskan, bahwa hadits man sanna fil islam sunnatan hasanatan, membatasi

jangkauan makna hadits kullu bid’atin dhalalah, karena makna haditsnya sangat jelas, tidak

perlu disangsikan. Selanjutnya, alasan bahwa konteks yang menjadi latar belakang (asbab al-wurud) hadits tersebut berkaitan dengan

anjuran sedekah, maka alasan ini sangat lemah sekali.



Bukankah dalam ilmu Ushul Fiqih telah kita kenal kaedah, al-’ibrah bi ’umum al-lafzhi la bi-khusush al-sabab,(peninjauan dalam makna suatu teks itu tergantung pada keumuman kalimat, bukan melihat pada konteksnya yang khusus).”



Tanya:

Menurut al-Imam Ibn Rajab, bid’ah hasanah itu tidak ada. Yang namanya bid’ah itu pasti sesat. Jawab:

“Maaf, Anda salah dalam mengutip pendapat

al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali.Justru al-Imam Ibn Rajab itu mengakui bid’ah hasanah. Hanya saja beliau tidak mau menamakan bid’ah hasanah dengan bid’ah, tetapi beliau namakan Sunnah. Jadi hanya perbedaan istilah saja.



Sebagai bukti, bahwa Ibn Rajab menerima bid’ah hasanah, dalam kitabnya, Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam fi Syarth Khamsin Haditsan min

Jamawi’ al-Kalim, beliau mengutip pernyataan al-Imam al-Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua. Dan seandainya al- Imam Ibn Rajab memang berpendapat seperti yang dikatakan, kita tidak akan mengikuti beliau, tetapi kami akan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mengakui adanya bid’ah hasanah.”



Tanya:

Dalil-dalil yang Anda ajukan dari Khulafaur Rasyidin, seperti dari Khalifah Umar, Utsman dan Ali, itu tidak bisa dijadikan dalil bid’ah hasanah. Karena mereka termasuk Khulafaur Rasyidin. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan kita mengikuti Khulafaur Rasyidin, dalam hadits ‘alaikum bisunnati wa sunnatil khulafair rasyidin al mahdiyyin (ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur

Rasyidin yang memperoleh petunjuk).



Dengan demikian, apa yang mereka lakukan sebenarnya termasuk Sunnah berdasarkan hadits ini.”



Jawab:

Sebenarnya yang tidak mengikuti Khulafaur

Rasyidin itu orang yang menolak bid’ah hasanah seperti yang suka menuduh ahli bidah sayyiah.Karena Khulafaur Rasyidin sendiri melakukan bid’ah

hasanah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita mengikuti Khufaur Rasyidin.

Sementara Khulafaur Rasyidin melakukan bid’ah hasanah.



Berarti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita melakukan bid’ah hasanah.

Dengan demikian yang berpendapat dengan adanya bid’ah hasanah itu sebenarnya mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin. Oleh karena itu, mari kita ikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin dengan melakukan

bid’ah hasanah sebanyak-banyaknya.”



Tanya:

Kalau Anda mengatakan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah maknanya terbatas dengan artian bahwa sebagian bid’ah itu sesat, bukan

semua bid’ah, lalu apakah Anda akan mengartikan teks berikutnya, yang berbunyi wa

kullu dhalalatin finnar, dengan pengertian yang sama, bahwa sebagian kesesatan itu masuk

neraka, bukan semuanya. Apakah antum berani mengartikan demikian?”



Jawab:

Dalam mengartikan atau membatasi jangkauan makna suatu ayat atau hadits, kita tidak boleh

mengikuti hawa nafsu. Akan tetapi kita harus mengikuti al-Qur’an dan Sunnah pula. Para

ulama mengartikan teks hadits kullu bid’atin dhalalah dengan arti sebagian besar bid’ah itu

sesat, karena ada sekian banyak hadits yang menuntut demikian.



Sedangkan berkaitan teks berikutnya, wa kullu dhalalatin finnar (setiap kesesatan itu di

neraka), di sini kami tegaskan, bahwa selama kami tidak menemukan dalil-dalil yang

membatasi jangkauan maknanya, maka kami akan tetap berpegang pada keumumannya.

Jadi makna seluruh atau sebagian dalam sebuah teks itu tergantung dalil. Yang namanya

dalil, ya al-Qur’an dan Sunnah.Jadi membatasi jangkauan makna dalil, dengan dalil pula,

bukan dengan hawa nafsu.”



Tanya :

Bagaimanakah Arti hadist Kullu bid'atin dholalah yang artinya

: Semua bid’ah sesat. Padahal keterangan di atas,ada yang

hasanah (bagus) ada yang sayyiah

(buruk ).

Jawab :

Perlu kita maklumi bersama ,bahwa menurut ilmu mantiq :

*. Lafadz KULLU yang mengandung arti “tiap-

tiap” disebut kullu kulliyah.

*. Lafadz KULLU yang yang mengandung Arti

“sebagian “ di sebut kullu kulliy

Tanya :

Bagaimana contohnya ?

Jawab :

Contoh firman Allah yang mengandung arti “tiap-tiap” (kullu

kulliyah) “Kullu nafsin dzaiqotul maut” “

Artinya :Tiap-tiap orang merasakan

mati.”



Contoh firman Allah yang mengandung

arti “sebagian” (kullu kulliy) ……yang artinya : Dan telah kami jadikan dari

air sebagian makhluk yang hidup.”

Kalau “kulla syain disini di artikan

“tiap-tiap segala sesuatu maka

bertentangan dengan kenyataan,bahwa ada

makhluk hidup yang di jadikan oleh Allah

tidak dari air.Seperti malaikat dari

cahaya dan jin dari Api.

Firman Allah swt :“

Dan tuhan telah menjadikan semua jin

dari sebuah api.”

Jadi jelasnya “kullu” itu mengandung

dua Arti ; adakalanya “tiap-tiap”,dan

adakalanya “sebagian”.



Tanya :

Bagaimanakah maksud dari pada hadist Nabi saw yang artinya : “Jika ada soal – soal

agamamu ,serahkanlah ia kepadaku.Jika

ada soal – soal duniamu maka kamu

akan mengetahui akan soal – soal

duniamu itu.”

Jawab :

Sasaran dari hadist di atas sebenarnya bukan mengenai “Bid’ah”

melainkan mengenai “Hukum” dan

“tekhnik”

CONTOH :

Hukum membangun Masjid/madrasah adalah urusan Agama.Harus di kembalikan kepada Nabi saw.Artinya harus bersumber dari Al-Qur’an dan Assunnah.Sedangkan tekhnik pembangunanya adalah urusan dunia.dan ini di serahkan kepada umat,terserah menurut peradaban manusia/perkembangan zaman.



Tanya :

Sebagian golongan yang ingkar pada faham Ahli sunnah wal jama’ah

menganggap,ibadat itu hanya ada satu

macam dan harus dari Nabi saw.

Betulkah itu?

Jawab :

Yang benar ‘badat itu ada dua macam :

a. Ibadat muqayyadah ( ibadah yang terkait ) Seperti :

- Sholat wajib lima waktu

- Zakat wajib

- Puasa ramadhan

- Haji dsb…

Ibadat – ibadat ini mempunyai keasliannya dari Nabi dalam segala – galanya,Hukumnya,tekhnik

pelaksanaanya ,waktu dan bentuknya .Kesemuanya di ikat (muqayyad) menurut aturan tertentu tidak boleh di rubah.

b. Ibadat Muthlaqah (ibadah yang tidak terikat secara menyeluruh )

seperti :

- Dzikir

- Tafakkur

- Membaca Al-Qur’an

- Belajar/mengajar ilmu agama,

- Birrul waalidain (berbakti kepada ayah dan ibu) dll

Ibadat – ibadat ini mempunyai keaslianya dari Nabi dalam beberapa hal.Sedang mengenai bentuk dan tekhnik pelaksanaanya tidak di ikat dengan aturan-aturan tertentu,terserah kepada ummat,asal tidak melanggar pokok – pokok Syariat islam.



Kadang-kadang pada ibadat muthlaqah inilah terjadi bid’ah hasanah.Demikian menurut faham Ahli sunnah wal jama’ah.



KESIMPULAN :



Untuk menyimpulkan keterangan di

atas ,kami nuqilkan fatwa Imam



Muhammad Bin Idris Asyafi’i yang di

riwayatkan oleh Abu Nu’aim. Yang artinya : “Bid’ah itu ada dua

macam ,Bid’ah yang terpuji dan yang

tercela.Maka mana saja yang sesuai

Assunnah ,maka itulah yang

terpuji.Dan mana saja yang

bertentangan/menyalahi Assunnah,maka itulah yang tercela.”



Alhadidy dalam syarah ilmu balaghah

menyebutkan Yang artinya :

“Lafadz Bid’ah di pakai untuk dua pengertian.

Pertama ialah sesuatu yang di persalahkan denganya akan Al- Qur’an dan Alhadist ,Seperti berpuasa di hari nahar atau dihari tasyriq karena pada hari-hari itu,walaupun namanya puasa,tetapi itu termasuk sesuatu yang di larang.



Yang kedua sesuatu yang tidak datang padanya Nash,bahkan mendiamkannya,maka hal- hal tersebut di lakukan oleh orang- orang islam sesudah Nabi saw.wafat.Dan apa yang di riwayatkan dari sabda Rasulullah saw.”tiap-tiap yang sesat itu dalam neraka”.Maka tafsiranya di tanggungkan pada pengertian yang pertama,



sedang ucapan sayyidina umar ra.dalam hal mengumpulka dalam solat tarowih : Sesungguhnya dia itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah itu ,inilah…. di tanggungkan atas tafsir bid’ah menurut pengrtian yang kedua.”



Albaihaqi meriwayatkan dalam manaqibnya : ًYang artinya. “Ciptaan-ciptaan baru itu ada dua macam.sesuatu yang bertentangan/ menyalahi Al-Quran/Assunnah,Atsar/ Ijma’,maka inilah bid’ah yang sesat.Sedang yang terdiri dari kebaikan,yang tidak bertentangan dengan Al-qur’an/Assunnah/ ijma’.Maka inilah bid’ah yang tidak tercela.”



Tanya :

Kalau begitu bagaimana mengikuti faham Ahli Sunnah wal

jamaah itu?

Jawab :

Mengikutinya hukumnya wajib.

Dalam Almajalisus saniyah,halaman 88 disebutkan sbb :Yang artinya : “Di dalam kitabnya “ ALGHUNIYAH “ Syekh Abdul qodir Aljailaniy berkata : Wajiblah atas orang mukmin,mengikuti Assunnah dan Aljamaah.Maka arti yang Assunnah yaitu sesuatu yang di contohkan oleh Rasulullah saw.Sedangkan Aljamaah,yaitu sesuatu yang sudah sepakat atasnya para sahabat ra seluruhnya,pada masa khilafah imam-imam empat,Khalifah lurus lagi terpimpin RADHIYALLAHUANHUM



Begitulah cara para ulama salafus shalihin dalam memahami makna dari sebuah hadist.karna hadist Nabi di sajikan dalam bentuk bahasa arab,tentunya perlu berbagai disiplin ilmu untuk memahaminya.Tidak bisa langsung di fahami secara serampangan dengan cuma mengartikan makna textnya saja.



Semoga kita di beri Alloh hidayah.Supaya kita bisa betul betul bisa memahami hadist hadist beliau dan mengikutinya dengan benar.

Amiin......

No comments:

Post a Comment